Monday, August 31, 2009

5 Tanda Orang Bertaqwa menurut Syaidinna Usman bin Affan

1.Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh/sholehah, yang menjaga lisannya.
Bergaul dengan orang-orang sholeh karena kita akan mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan bila mendapatkannya dari orang-orang yang hanya mengucap kebenaran.

2.Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.

Salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya kita dari ujian yang diberikanNya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita.

3.Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.
Teringat cerita Syaidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat Ashar di Masjid hanya karena beliau sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Syaidina Umar pun begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai penyebab musibah itu akhirnya dijual.

4.Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram & tidak sampai kenyang.
Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi ‘Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang‘. Sungguh suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan namun saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk.

5.Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya.
Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.
Nampaknya banyak diantara kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam beribadah, kemudahan dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mudah menganggap dirinya lebih sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu’ dan senantiasa melakukan amal ibadah tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan kualitas ketakwaan diri.

By: Ust. Komaruddin Cholil

Read more...

4 waktu yang tidak boleh disia-siakan

Adapun 4 waktu yang tidak boleh disia-siakan adalah:

•Waktu untuk bermunajat
Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan bertasbih, berzikir atau membaca Kalamullah. Bila kita tertidur saat kita sedang bermunajat, insya Allah kita dianggap sedang berdoa selama kita tidur, subhanallah.

•Waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih

Tanpa pernah tahu kapan kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah membantu kita dalam hal apapun. Terutama bagi yang masih memiliki orang tua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka, ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada kita.

•Waktu untuk mengevaluasi diri
Bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan modal yang berharga untuk masa depan.

•Waktu untuk beramal sholeh
Tidak perlu menunggu tanggal gajian, seberapapun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apapun amal ibadah kita dan akan menggantinya berlipat ganda apabila keikhlasan ada dibalik perbuatan kita membantu sesama.

By: Ust. Komaruddin Cholil

Read more...

Monday, August 10, 2009

KISAH PEMUDA BERIBU-BAPAKAN BABI

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?".
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Bai itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.
Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.

"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.

"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."

Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.

Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.
Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.

Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.
Untuk mengetahui lebih mendalam kisah alam akhirat sila dapatkan buku terbitan syarikat Nurulhas yang berjudul: BILA IZRAIL A.S. DATANG MEMANGGIL

Read more...

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

Read more...

Thursday, August 6, 2009

10 KEUTAMAAN MENGHUBUNGKAN UKHUWAH

1. Mendapatkan keredaan Allah kerana Allah amat suka kepada orang yang menghubungkan Ukhuwah begitu juga penduduk di langit.

2. Menggembirakan para Malaikat di langit kerana mereka amat suka kepada orang yang menghubungkan Ukhuwah.

3. Dapat menambahkan pahala amalnya setelah ia meninggal kelak.

4. Dapat menambah dan menimbulkan rasa kasih sayang dalam pergaulan seharian.

5. Dapat menambah dan menimbulkan keberkatan kepada rezeki.

6. Allah dapat melanjutkan usianya.

7. Menjadikan iblis dan syaitan bertambah gelisah dan sakit hati.

8. Akan disegani dan dihormati oleh masyarakat yang berada di sekelilingnya.

9. Dapat menggembirakan jenazah yang berada di alam barzah.

10. Dapat mencetuskan kegembiraan pada kedua belah pihak, tiada amalan yang lebih baik melainkan menggembirakan hati orang-orang yang beriman.

Read more...

MUHASABAH DIRI, HAKIKAT KEMATIAN

Hari ini anda mampu mandi sendiri
tetapi suatu hari nanti orang lain yang akan memandikan anda

Hari ini anda mampu memakai pakaian sendiri
tetapi suatu hari nanti orang lain akan memakainya untuk anda

Hari ini anda mempunyai ramai saudara dan teman tetapi suatu hari nanti anda keseorangan di dalam kubur

Hari ini anda bebas bergerak ke mana saja anda suka tetapi suatu hari nanti anda akan tinggal di dalam liang lahad yang sempit

Hari ini anda diterangi oleh lampu yang terang
tetapi suatu hari nanti anda akan tinggal di dalam kubur yang gelap gelita

Oleh itu insaflah dan sayangilah diri Anda

Read more...

Thursday, July 30, 2009

Penghalang Berzikir Dalam Al-Qur’an

Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. al-Munafiqun ayat 9).

Zikir sekalipun telah diperintahkan dalam al-Qur'an dan kemudian diiringi dengan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan manfaat dan potensinya namun tidak semua orang sadar untuk melakukannya. Ketidaksadaran untuk melakukan zikir boleh jadi dipengaruhi oleh faktor internal seperti malas atau karena faktor eksternal seperti kesibukan melakukan pekerjaan lain.

Adanya ketidaksadaran untuk melakukan zikir ini dapat ditengarai melalui banyaknya perintah yang terdapat dalam al-Qur'an untuk melakukan zikir. Banyaknya perintah pada prinsipnya mengindikasikan adanya ketidaksadaran bagi yang diperintah sehingga diperlukan perintah-perintah berikutnya atau menunjukkan betapa pentingnya sesuatu yang diperintahkan.

Al-Qur'an memberikan penjelasan bahwa keengganan sebagian manusia untuk berzikir disebabkan adanya faktor-faktor penghalang yang datang dari diri manusia itu sendiri. Faktor-faktor penghalang ini dijelaskan oleh al-Qur'an secara rinci agar manusia dapat mengantisipasinya. Melalui antisipasi ini diharapkan agar seseorang dapat mengindahkan perintah zikir dengan baik.

Penghalang-penghalang yang disebutkan oleh al-Qur'an diterapinya secara baik sehingga tindakan revolusi terhadap faktor penghalang tidak dianggap sebagai tindakan yang bijak. Revolusi dimaksud adalah tindakan sebagian orang yang seolah-olah tidak peduli lagi kepada harta, meninggalkan pekerjaan dan menelantarkan anak dengan alasan untuk berzikir kepada Allah dan prilaku seperti ini tetap saja ditolak.

Alasan penolakan prilaku seperti ini karena dianggap sebagai tindakan putus asa karena tidak memiliki kemampuan management yang baik sehingga sulit berbuat di antara dua kemungkinan. Orang yang sangat bijak adalah yang mampu mengatur faktor-faktor penghalang, dengan kata lain, semakin bertambah rezeki dan anaknya maka semakin bertambah pula nilai-nilai ketaqwaannya kepada Tuhan.

Sebagian faktor-faktor penghalang memang ada yang perlu untuk dimusnahkan dalam jiwa yaitu setan dan nafsu yang cenderung kepada permusuhan. Kedua penghalang ini harus dipangkas secara tuntas karena merupakan bahaya laten yang setiap saat akan dapat muncul kembali.

Faktor-faktor Penghalang
Faktor-faktor penghalang yang menyebabkan seseorang tidak melaksanakan zikir atau menunda-nunda zikir kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an adalah setan, rasa permusuhan, harta, anak dan bisnis. Faktor-faktor ini harus diperhatikan dengan baik dan benar karena bujuk rayuannya sangat halus yang dapat mengantarkan seseorang kepada prinsip anggap enteng.

Setan adalah faktor utama yang selalu menghalangi seseorang untuk berzikir kepada Allah sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al-Mujadalah ayat 19. Langkah pertama yang dilakukan oleh setan ini adalah menggiring mereka untuk masuk ke dalam kelompoknya dan kemudian menguasai manusia dalam segala lini sehingga menyebabkan mereka lupa untuk berzikir kepada Allah.

Upaya setan untuk menghalangi manusia berzikir -menurut Ibn Katsir- dengan cara menyelinap ke dalam hati manusia dan kemudian membisikkan sesuatu yang sangat mengasyikkan. Orang-orang yang merespon bisikan setan ini akan terdaftar menjadi partai setan dengan garis perjuangan nahi ma'ruf dan amar munkar dan mereka terus berupaya untuk mencari anggota-anggota baru.

Partai ini menurut al-Qur'an adalah partai yang merugi karena tidak mau melakukan zikir padahal zikir itu sendiri dapat menumbukan spirit dan etos kerja yang baik. Orang-orang yang terlibat ke dalam partai setan ini dicap sebagai orang-orang yang bermoral rendah dan hina karena setiap aktifitas yang mereka lakukan selalu menantang hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya.

Penghalang berikutnya untuk melakukan zikir ialah adanya rasa permusuhan di dalam hati sehingga menyebabkan munculnya rasa kebencian. Q.S. al-Maidah ayat 91 menegaskan bahwa faktor yang menyebabkan munculnya rasa permusuhan dan kebencian adalah khamar dan judi. Faktor ini masih tetap diklaim oleh al-Qur'an sebagai upaya setan yang sengaja menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian.

Imam al-Qurthubi memberikan komentar tentang ayat ini dimana Allah memberitahukan kepada manusia bahwa setan adalah bahaya laten dalam kehidupan manusia. Manusia digiring oleh setan untuk melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan kekuatan akal seperti khamar dan judi padahal akal merupakan sumber kontrol yang sangat efektif untuk menangkis berbagai bentuk kejahatan.

Implikasi dari meminum khamar dan judi ini telah disebutkan oleh al-Qurthubi dengan mengutip sebuah riwayat ketika terjadi perkelahian massal yang para pelakunya sedang mabuk. Ketika perkelahian usai dan akal sudah berfungsi ternyata yang banyak menjadi korban adalah saudara mereka sendiri demikian bahaya khamar dan judi yang dapat mengikis nilai-nilai kasih sayang dari jiwa seseorang.

Faktor penghalang melakukan zikir yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh bisnis dan ini dapat dilihat melalui sanjungan al-Qur'an bagi orang-orang yang tidak terpengaruh dengannya dalam melakukan zikir kepada Allah sebagaimana dalam Q.S. al-Nur ayat 37. Ayat selanjutnya (Q.S. al-Nur ayat 38) menjelaskan alasan meninggalkan jual beli karena Allah memberi rezeki tanpa perhitungan.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang meninggalkan zikir lantaran disibukkan oleh bisnis adalah orang yang berpikir secara materialis yang baginya rezeki adalah mutlak dari hasil usahanya tanpa ada peranan Tuhan. Prilaku yang seperti ini dikecam oleh al-Qur'an karena intervensi Tuhan terhadap hasil pekerjaan seseorang adalah mutlak.

Meninggalkan zikir lantaran pengaruh bisnis dianggap sebagai tindakan yang tidak etis karena melupakan peran kebesaran Tuhan dalam mengatur rezeki. Realitas kehidupan juga membuktikan bahwa semakin taat seseorang maka semakin lancar usaha yang dikelolanya. Tanpa disadari pintu-pintu keberkahan terbuka dari segala penjuru dan karenanya usaha adalah kewajiban sementara hasil adalah urusan Tuhan.

Anak-anak dan harta adalah dua hal yang sangat dominan untuk menghalangi seseorang berzikir kepada Allah. Q.S. al-Munafqiun ayat 9 menegaskan jangan gara-gara harta dan anak menyebabkan seseorang lupa mengingat Allah. Orang-orang yang lalai berzikir disebabkan dua hal ini dikategorikan ke dalam kelompok orang-orang yang merugi.

Terapi yang ditawarkan oleh ayat selanjutnya (Q.S. al-Munafiqun ayat 10) adalah agar harta diinfaqkan sebelum datang kematian. Penyesalan adalah ungkapan akhir bagi orang-orang yang selalu mengurungkan niatnya untuk berinfaq.

Harta bagi orang-orang yang beriman hanya diletakkan di telapak tangan, dan bagi yang tidak beriman akan dihunjamkannya ke lubuk hati sehingga sulit baginya untuk membongkar hartanya yang terpendam ini. Berinfaqlah tanpa harus menunggu harta terkumpul banyak karena kegemaran berinfaq didasarkan kepada kebiasaan, dan boleh jadi semakin terkumpul harta maka semakin muncul rasa sayang.

Tidak sedikit orang yang menunda zikir dengan alasan anak dan bahkan sering mendahulukan kepentingan anak dari pada kepentingan Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan faktor anak yang membuat kelalaian berzikir adalah karena terlalu banyak berharap kepada doa anak sehingga lupa mengurus diri sendiri.

Penutup
Faktor-faktor yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk berzikir kepada Allah pengaruhnya tidak signifikan jika manusia pandai menterapinya. Terapi yang ditawarkan oleh al-Qur'an nampaknya cukup bijak dan signifikan dalam rangka menguak tabir penghalang di atas dengan cara yang lebih beradab yaitu menjinakkannya bukan dengan tindakan brutal tanpa memperdulikannya sama sekali.

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP