Jadilah Hamba Allah yang Rahmatan Lil 'alamin
Nabi Muhammad SAW yang diutus ke atas permukaan bumi ini menjadi suri
tauladan yang baik bagi umatnya dan sekaligus menjadi rahmatan lil 'alamin atau
rahmat bagi seluruh alam. Ajaran beliau sangat santun dan lembut. Tidak ada
satu sunnah beliau pun yang tidak bermanfaat bagi orang yang mengamalkannya.
Banyak dulunya sunnah-sunnah beliau dihujat karena dianggap aneh dan
bertentangan dengan kebiasaan dan ilmu pengetahuan, tapi akhirnya dijadikan
rujukan dan pedoman. Untuk itu maka sebaiknyalah kita berbangga dapat mengenal
beliau walaupun kita tidak pernah jumpa dengannya, insyaAllah di surga nanti
kita akan bertemun dengan beliau apabila kita mau mengamalkan sunnah-sunnah dan
mengikuti jejak-jejak beliau, amiin.
Sebagai umat beliau, umat utusan Allah SWT yang rahmatan lil 'alamin, kita
juga berusaha agar menjadi umat yang rahmatan lil 'alamin. Ada beberapa
makhluk Allah yang sifat-sifatnya bisa menginspirasi kita menjadi rahmat
seluruh alam. Apakah makhluk-makhluk tersebut? Berikut ini ada empat jenis yang
akan saya utarakan disini.
Sunday, August 31, 2014
Monday, November 9, 2009
Jika Tahu Kita Akan Menangis (Ttg Siksa Neraka)
“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.
Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.
Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan- Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”
Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.
Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawab kan apa yang telah kita lakukan.
Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.
Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.
Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”
Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.
Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.
Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)
Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.
Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.
by: Muhammad Nuh (Tausyiah online)
Wednesday, October 21, 2009
Pemimpin Adalah Nahkoda
Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.
Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah swt menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah swt berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.
Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.
Di dalam Al Qur’an Allah swt telah menceritakan hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.
Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tepai lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah swt akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.
Pemimpin Adalah Nahkoda
Benar, perumpamaan yang mengatakan bahwa pemimpin adalah nahkoda bagi sebuah kapal. Sebab Negara ibarat kapal yang didalamnya banyak penumpangnya. Para penumpang seringkali tidak tahu apa-apa. Maka selamat tidaknya sebuah kapal tergantung nahkodanya. Bila nahkodanya berusaha untuk menabrakkan kapal ke sebuah karang, tentu bisa dipastikan bahwa kapal itu akan tenggelam dan semua penumpang akan sengsara.
Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemipin adalah otak yang mengatur semua gerakan anggotanya. Karena itu pemimpin harus cerdas, lebih dari itu harus jujur dan adil. Tidak cukup seorang pemimpin hanya bermodal kecerdasan, sebab seringkali para pemimpin yang korup menggunakan kecerdasannya untuk menipu rakyat. Karena itu ia harus jujur dan adil. Itulah rahasia firman Allah : “I’diluu huwa aqrabu lit taqwaa. Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”. QS. Al Ma’idah: 8.
Perhatikan ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah jalan menuju ketaqwaan. Mengapa? Sebab tidak mungkin seorang pemimpin yang dzalim bertaqwa. Bila jiwa taqwa hilang dari diri seorang pemimpin, ia pasti akan berani kepada Allah swt. Bila seorang pemimpin berani kepada Allah swt, maka kepada manusia ia akan lebih berani.
Karena itu bekal utama seorang pemimpin harus benar-benar menegakkan taqwa dalam dirinya.
Karena itu pesan utama Al Qur’an adalah membangun pribadi taqwa. Sebab dengan taqwa seorang pemimpin akan bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt. Bila ia bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt maka segala langkahnya akan berkah dan otomatis Negara yang dipimpinya pun akan berkah.
Itulah rahasi mengapa dalam memilih seorang pemimpin, hendaklah sebuah bangsa jangan asal-asalan. Melainkan harus benar-benar selektif. Jangan asal disogok lalu berani mengorbankan kebenarn. Ingat bahwa Allah swt tidak hanya mengancam orang-orang yang berbuat dzalim, melainkan juga mengancam orang-orang yang mendukung kedzaliman tersebut. Allah berfirman:
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. QS. Al Mukmin : 45-46.
Pemimpin Adalah Cermin Rakyat
Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup. Karena itu terpilihnya Fir’un sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih nyaman menikmaati kedzalimannya.
Ustadz Sayed Qutb ketika menafsirkan ayat tentang Fir’un dalam surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Fir’un terus berkuasa. Mereka pasti akan segera memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’un merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’un menjadi lupa daratan sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah swt rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”. Saya tuhan kalian yang tinggi.
Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup atau yang jujur dan adil.
Ingat bahwa setiap suara yang kita berikan itu adalah amanah. Bila kita salah menyerahkan amanah, yang sengsara kita juga. Sebaliknya bila kita bersungguh-sungguh untuk menyerahan amanah itu kepada yang ahlinya, maka kitalah yang akan menikmatinya. Bukan saja kesejahteraan di dunia yang kita dapatkan melainkan lebih dari itu, kita akan mendapatkan pahala yang melimpah karena kita telah mendukung kebaikan.
Dari sini nampak bahwa suara rakyat adalah sangat menentukan terhadap lahirnya seorang pemimpin. Oleh sebab itu, kita sebagi rakyat hendaknya bersungguh-sungguh untuk menjadi rakyat yang baik, sebab jika tidak, kita sendiri yang rugi dan sengsara. Rasulullah saw. Bersabda: ”Bahwa seorang mu’min tidak pantas terjatuh ke lubang yang sama dua kali”. Maka cukuplah masa lalu kita jadikan pelajaran. Sekarang sudah saatnya kita memilih pemimpin yang benar-benar membawa risalah Allah. Sebab hanya dengan menegakkan ajaran Allah swt keberkahan akan turun. Allah berfirman:
”Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa, niscaya akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi”. QS. Al A’raf : 96.
Berdasarkan hal di atas, jelas bahwa keberkahan yang akan kita raih tergantung perjuangan kita untuk menegakkan ajaran Allah. Dan untuk itu sungguh sebuah keniscayaan kita memilih seorang pemimpin yang benar-benar membawa keberkahan. Itulah pemimpin yang bersih dan senantiasa mengedepankan risalah Allah swt sebagai panduannya.
Sejarah telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah swt ceritakan dalam Al Qur’an, misalnya: Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Dzul Qarnain, itu adalah karena kesungguhan mereka menegakkan ajaran Allah dalam kepemimpinannya. Begitu juga kepemimpinan Rasulullah saw, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka dalah contoh-contoh yang tidak bisa kita nafikan sebagai puncak pemimpin yang paling berhasil dan sukses.
Dan bila kita teliti kunci utama keberhasailan mereka adalah karena mereka memimpin dengan ketaqwaan. Sebab bila seorang pemimpin bertaqwa ia pasti jujur dan amanah. Bila seorang pemimpin jujur dan amanah ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada rakyat yang dipimpinnya.
Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak bertaqwa, ia pasti akan selalu membawa bencana dengan kedzaliman yang ia bangga-banggakan. Kedzaliman adalah sumber kesengsaraan. Karena itu Allah swt menyebutkan bahwa orang yang paling dzalim adalah orang yanga setelah mendapatkan tuntunan dari Allah malah ia berpaling darinya. Mengapa dikatakan dzalim, karena dengan kedzalimannya tidak saja ia menjadikan dirinya sebagai bahan neraka, melain juga dengan kedzalimannya ia membawa acaman bagi orang lain yang dipimpinnya. Wallahu A’lam bish Shawab. (by DR. Amir Faishol Fath)
Monday, October 5, 2009
Musibah dan Taubat Berjama’ah
Gempa 7,6 SR. menggunjang Sumatera Barat, pada Rabu 30 September 2009 sore hari. Sampai tulisan ini diturunkan lebih dari 200 jiwa meninggal dunia. Belum selesai rasa belasungkawa bangsa Indonesia dengan kejadian itu, gempa kembali menggunjang Jambi dan Bengkulu dengan kekuatan yang hampir sama, 7,0 SR. Semua warga yang mengalami musibah tersebut histeris, bingung, bahkan pingsan tak sadarkan diri.
Kejadian serupa juga belum lama lewat dari perasaan dan ingatan kita, gempa dengan kekuatan 7,5 SR. mengguncang Jawa Barat. Dari semua kejadian itu, kerugian materiil tidak terhitung jumlahnya, sangat besar sekali. Pemerintah pun akhirnya mengeluarkan anggaran untuk bencana dari APBN yang tidak sedikit.
Jika musibah itu menjauh dari kita, tentu anggaran bencana itu bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lain, hajat primer masyarakat yang masih sulit ekonominya, untuk membayar hutang dan tentu untuk membangun kembali Indonesia.
Bagaimana musibah itu bisa menjauh dari kita? Atau, agar kita menjadi negeri yang aman, damai dan terhindar dari bencana, apa yang perlu kita lakukan?
Semua jenis musibah yang terjadi adalah akibat kesombongan, kesalahan, dosa, dan kemaksiatan yang dilakukan manusia, bahkan karena perilaku manusia yang tidak menghiraukan aturan Tuhan.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash menceritakan ketika turun surat Al-Zilzal (gempa), Abu Bakar sedang duduk terpaku kemudian menangis. Rasulullah saw. bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Abu Bakar? Ia menjawab: “Surat ini membuatku menangis” maka Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya kalian tidak melakukan kesalahan dan tidak berdosa, dan Allah mengampuni kesalahan kalian, pasti Allah akan menciptakan umat lain yang bersalah dan berdosa, mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka.” Ibnu Jarir
Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Hati-hati perilaku meremehkan dosa dan kesalahan, karena ketika dosa dan kesalahan berhimpun pada diri seseorang, dosa dan kesalahan itu akan menghancurkannya.” Imam Ahmad
Siapapun kita, apakah politisi, penyelenggara negara, wakil rakyat “yang hari ini, 1 Oktober 2009 akan dilantik”, pegiat media massa, artis, public figur, ulama, atau siapapun kita, hendaknya merenung dengan penuh kerendahan diri, bahwa ada “Kekuatan” yang Maha Dahsyat yang bisa berkehendak untuk menjadikan bumi, laut, gunung dan makhluk lain-Nya menunjukkan “ketidak senangannya terhadap manusia”, hanya dengan berfirman: “Kun Fayakun. Gempa, maka terjadilah gempa yang dahsyat.”
Ya, kesombongan, kesalahan, dosa, kemaksiatan yang dilakukan manusia, bahkan perilaku manusia yang tidak menghiraukan aturan Tuhan, menghalalkan segala cara menjadi penyebab terjadinya suatu bencana.
Kejadian hebat itu menjadi pengingat dan nasehat secara langsung bagi siapa saja yang masih punya hati nurani dan iman di dada. Ada Dzat yang Maha Kuasa yang memberi peringatan kepada setiap manusia yang boleh jadi kembali pada “habitatnya” setelah satu bulan Ramadhan mendekat pada Tuhan.
Taubat dan kembali kepada Allah swt. harus segera dilakukan oleh seluruh komponen anak bangsa ini, agar alam sekitar bersababat, bahkan memberikan manfaat dan kesejahterahan bagi umat manusia. Allahu a’lam
(dakwatuna.com)
Monday, August 31, 2009
5 Tanda Orang Bertaqwa menurut Syaidinna Usman bin Affan
1.Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh/sholehah, yang menjaga lisannya.
Bergaul dengan orang-orang sholeh karena kita akan mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan bila mendapatkannya dari orang-orang yang hanya mengucap kebenaran.
2.Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.
Salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya kita dari ujian yang diberikanNya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita.
3.Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.
Teringat cerita Syaidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat Ashar di Masjid hanya karena beliau sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Syaidina Umar pun begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai penyebab musibah itu akhirnya dijual.
4.Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram & tidak sampai kenyang.
Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi ‘Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang‘. Sungguh suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan namun saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk.
5.Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya. Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.
Nampaknya banyak diantara kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam beribadah, kemudahan dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mudah menganggap dirinya lebih sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu’ dan senantiasa melakukan amal ibadah tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan kualitas ketakwaan diri.
By: Ust. Komaruddin Cholil
4 waktu yang tidak boleh disia-siakan
Adapun 4 waktu yang tidak boleh disia-siakan adalah:
•Waktu untuk bermunajat
Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan bertasbih, berzikir atau membaca Kalamullah. Bila kita tertidur saat kita sedang bermunajat, insya Allah kita dianggap sedang berdoa selama kita tidur, subhanallah.
•Waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih
Tanpa pernah tahu kapan kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah membantu kita dalam hal apapun. Terutama bagi yang masih memiliki orang tua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka, ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada kita.
•Waktu untuk mengevaluasi diri
Bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan modal yang berharga untuk masa depan.
•Waktu untuk beramal sholeh
Tidak perlu menunggu tanggal gajian, seberapapun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apapun amal ibadah kita dan akan menggantinya berlipat ganda apabila keikhlasan ada dibalik perbuatan kita membantu sesama.
By: Ust. Komaruddin Cholil
Thursday, August 6, 2009
10 KEUTAMAAN MENGHUBUNGKAN UKHUWAH
1. Mendapatkan keredaan Allah kerana Allah amat suka kepada orang yang menghubungkan Ukhuwah begitu juga penduduk di langit.
2. Menggembirakan para Malaikat di langit kerana mereka amat suka kepada orang yang menghubungkan Ukhuwah.
3. Dapat menambahkan pahala amalnya setelah ia meninggal kelak.
4. Dapat menambah dan menimbulkan rasa kasih sayang dalam pergaulan seharian.
5. Dapat menambah dan menimbulkan keberkatan kepada rezeki.
6. Allah dapat melanjutkan usianya.
7. Menjadikan iblis dan syaitan bertambah gelisah dan sakit hati.
8. Akan disegani dan dihormati oleh masyarakat yang berada di sekelilingnya.
9. Dapat menggembirakan jenazah yang berada di alam barzah.
10. Dapat mencetuskan kegembiraan pada kedua belah pihak, tiada amalan yang lebih baik melainkan menggembirakan hati orang-orang yang beriman.
MUHASABAH DIRI, HAKIKAT KEMATIAN
Hari ini anda mampu mandi sendiri
tetapi suatu hari nanti orang lain yang akan memandikan anda
Hari ini anda mampu memakai pakaian sendiri
tetapi suatu hari nanti orang lain akan memakainya untuk anda
Hari ini anda mempunyai ramai saudara dan teman tetapi suatu hari nanti anda keseorangan di dalam kubur
Hari ini anda bebas bergerak ke mana saja anda suka tetapi suatu hari nanti anda akan tinggal di dalam liang lahad yang sempit
Hari ini anda diterangi oleh lampu yang terang
tetapi suatu hari nanti anda akan tinggal di dalam kubur yang gelap gelita
Oleh itu insaflah dan sayangilah diri Anda
Thursday, July 30, 2009
Penghalang Berzikir Dalam Al-Qur’an
Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. al-Munafiqun ayat 9).
Zikir sekalipun telah diperintahkan dalam al-Qur'an dan kemudian diiringi dengan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan manfaat dan potensinya namun tidak semua orang sadar untuk melakukannya. Ketidaksadaran untuk melakukan zikir boleh jadi dipengaruhi oleh faktor internal seperti malas atau karena faktor eksternal seperti kesibukan melakukan pekerjaan lain.
Adanya ketidaksadaran untuk melakukan zikir ini dapat ditengarai melalui banyaknya perintah yang terdapat dalam al-Qur'an untuk melakukan zikir. Banyaknya perintah pada prinsipnya mengindikasikan adanya ketidaksadaran bagi yang diperintah sehingga diperlukan perintah-perintah berikutnya atau menunjukkan betapa pentingnya sesuatu yang diperintahkan.
Al-Qur'an memberikan penjelasan bahwa keengganan sebagian manusia untuk berzikir disebabkan adanya faktor-faktor penghalang yang datang dari diri manusia itu sendiri. Faktor-faktor penghalang ini dijelaskan oleh al-Qur'an secara rinci agar manusia dapat mengantisipasinya. Melalui antisipasi ini diharapkan agar seseorang dapat mengindahkan perintah zikir dengan baik.
Penghalang-penghalang yang disebutkan oleh al-Qur'an diterapinya secara baik sehingga tindakan revolusi terhadap faktor penghalang tidak dianggap sebagai tindakan yang bijak. Revolusi dimaksud adalah tindakan sebagian orang yang seolah-olah tidak peduli lagi kepada harta, meninggalkan pekerjaan dan menelantarkan anak dengan alasan untuk berzikir kepada Allah dan prilaku seperti ini tetap saja ditolak.
Alasan penolakan prilaku seperti ini karena dianggap sebagai tindakan putus asa karena tidak memiliki kemampuan management yang baik sehingga sulit berbuat di antara dua kemungkinan. Orang yang sangat bijak adalah yang mampu mengatur faktor-faktor penghalang, dengan kata lain, semakin bertambah rezeki dan anaknya maka semakin bertambah pula nilai-nilai ketaqwaannya kepada Tuhan.
Sebagian faktor-faktor penghalang memang ada yang perlu untuk dimusnahkan dalam jiwa yaitu setan dan nafsu yang cenderung kepada permusuhan. Kedua penghalang ini harus dipangkas secara tuntas karena merupakan bahaya laten yang setiap saat akan dapat muncul kembali.
Faktor-faktor Penghalang
Faktor-faktor penghalang yang menyebabkan seseorang tidak melaksanakan zikir atau menunda-nunda zikir kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an adalah setan, rasa permusuhan, harta, anak dan bisnis. Faktor-faktor ini harus diperhatikan dengan baik dan benar karena bujuk rayuannya sangat halus yang dapat mengantarkan seseorang kepada prinsip anggap enteng.
Setan adalah faktor utama yang selalu menghalangi seseorang untuk berzikir kepada Allah sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al-Mujadalah ayat 19. Langkah pertama yang dilakukan oleh setan ini adalah menggiring mereka untuk masuk ke dalam kelompoknya dan kemudian menguasai manusia dalam segala lini sehingga menyebabkan mereka lupa untuk berzikir kepada Allah.
Upaya setan untuk menghalangi manusia berzikir -menurut Ibn Katsir- dengan cara menyelinap ke dalam hati manusia dan kemudian membisikkan sesuatu yang sangat mengasyikkan. Orang-orang yang merespon bisikan setan ini akan terdaftar menjadi partai setan dengan garis perjuangan nahi ma'ruf dan amar munkar dan mereka terus berupaya untuk mencari anggota-anggota baru.
Partai ini menurut al-Qur'an adalah partai yang merugi karena tidak mau melakukan zikir padahal zikir itu sendiri dapat menumbukan spirit dan etos kerja yang baik. Orang-orang yang terlibat ke dalam partai setan ini dicap sebagai orang-orang yang bermoral rendah dan hina karena setiap aktifitas yang mereka lakukan selalu menantang hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya.
Penghalang berikutnya untuk melakukan zikir ialah adanya rasa permusuhan di dalam hati sehingga menyebabkan munculnya rasa kebencian. Q.S. al-Maidah ayat 91 menegaskan bahwa faktor yang menyebabkan munculnya rasa permusuhan dan kebencian adalah khamar dan judi. Faktor ini masih tetap diklaim oleh al-Qur'an sebagai upaya setan yang sengaja menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian.
Imam al-Qurthubi memberikan komentar tentang ayat ini dimana Allah memberitahukan kepada manusia bahwa setan adalah bahaya laten dalam kehidupan manusia. Manusia digiring oleh setan untuk melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan kekuatan akal seperti khamar dan judi padahal akal merupakan sumber kontrol yang sangat efektif untuk menangkis berbagai bentuk kejahatan.
Implikasi dari meminum khamar dan judi ini telah disebutkan oleh al-Qurthubi dengan mengutip sebuah riwayat ketika terjadi perkelahian massal yang para pelakunya sedang mabuk. Ketika perkelahian usai dan akal sudah berfungsi ternyata yang banyak menjadi korban adalah saudara mereka sendiri demikian bahaya khamar dan judi yang dapat mengikis nilai-nilai kasih sayang dari jiwa seseorang.
Faktor penghalang melakukan zikir yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh bisnis dan ini dapat dilihat melalui sanjungan al-Qur'an bagi orang-orang yang tidak terpengaruh dengannya dalam melakukan zikir kepada Allah sebagaimana dalam Q.S. al-Nur ayat 37. Ayat selanjutnya (Q.S. al-Nur ayat 38) menjelaskan alasan meninggalkan jual beli karena Allah memberi rezeki tanpa perhitungan.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang meninggalkan zikir lantaran disibukkan oleh bisnis adalah orang yang berpikir secara materialis yang baginya rezeki adalah mutlak dari hasil usahanya tanpa ada peranan Tuhan. Prilaku yang seperti ini dikecam oleh al-Qur'an karena intervensi Tuhan terhadap hasil pekerjaan seseorang adalah mutlak.
Meninggalkan zikir lantaran pengaruh bisnis dianggap sebagai tindakan yang tidak etis karena melupakan peran kebesaran Tuhan dalam mengatur rezeki. Realitas kehidupan juga membuktikan bahwa semakin taat seseorang maka semakin lancar usaha yang dikelolanya. Tanpa disadari pintu-pintu keberkahan terbuka dari segala penjuru dan karenanya usaha adalah kewajiban sementara hasil adalah urusan Tuhan.
Anak-anak dan harta adalah dua hal yang sangat dominan untuk menghalangi seseorang berzikir kepada Allah. Q.S. al-Munafqiun ayat 9 menegaskan jangan gara-gara harta dan anak menyebabkan seseorang lupa mengingat Allah. Orang-orang yang lalai berzikir disebabkan dua hal ini dikategorikan ke dalam kelompok orang-orang yang merugi.
Terapi yang ditawarkan oleh ayat selanjutnya (Q.S. al-Munafiqun ayat 10) adalah agar harta diinfaqkan sebelum datang kematian. Penyesalan adalah ungkapan akhir bagi orang-orang yang selalu mengurungkan niatnya untuk berinfaq.
Harta bagi orang-orang yang beriman hanya diletakkan di telapak tangan, dan bagi yang tidak beriman akan dihunjamkannya ke lubuk hati sehingga sulit baginya untuk membongkar hartanya yang terpendam ini. Berinfaqlah tanpa harus menunggu harta terkumpul banyak karena kegemaran berinfaq didasarkan kepada kebiasaan, dan boleh jadi semakin terkumpul harta maka semakin muncul rasa sayang.
Tidak sedikit orang yang menunda zikir dengan alasan anak dan bahkan sering mendahulukan kepentingan anak dari pada kepentingan Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan faktor anak yang membuat kelalaian berzikir adalah karena terlalu banyak berharap kepada doa anak sehingga lupa mengurus diri sendiri.
Penutup
Faktor-faktor yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk berzikir kepada Allah pengaruhnya tidak signifikan jika manusia pandai menterapinya. Terapi yang ditawarkan oleh al-Qur'an nampaknya cukup bijak dan signifikan dalam rangka menguak tabir penghalang di atas dengan cara yang lebih beradab yaitu menjinakkannya bukan dengan tindakan brutal tanpa memperdulikannya sama sekali.
Bahaya Menghasud
Dalam karyanya, Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Sa'id Hawwa menceritakan seseorang yang meminta 700 ketenangan dalam tujuh kalimat yang dapat ia amalkan sehari-hari kepada ulama.
''Wahai orang bijak, sesungguhnya saya datang untuk mendapatkan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Beritahukan kepada saya tentang langit dan apa yang lebih berat darinya. Tentang bumi dan apa yang lebih luas darinya. Tentang batu karang dan apa yang lebih keras darinya. Tentang api dan apa yang lebih panas darinya. Tentang salju dan apa yang lebih dingin darinya. Tentang lautan dan apa yang lebih kaya darinya. Orang miskin papa dan apa yang lebih hina darinya.''
Orang bijak menjawab, ''Ketahuilah, sesungguhnya, berdusta atas orang tidak bersalah lebih berat dari segenap langit. Kebenaran lebih luas dari bumi. Hati yang menerima (lapang dada dan ikhlas) lebih kaya dari lautan. Ketamakan dan kedengkian lebih panas dari api. Kebutuhan akan kerabat bila tidak berhasil lebih dingin dari salju. Hati orang kafir lebih keras dari batu. Penghasut bila terbongkar perkaranya lebih hina dari orang miskin papa.''
Menghasut, mengadu domba, atau memprovokasi, dalam bahasa agama disebut namimah. ''Sesungguhnya, orang-orang yang suka menghasut tidak akan masuk surga.'' (HR. Bukhari-Muslim).
Hakikat namimah, kata Sa'id Hawwa ialah menyebarkan rahasia dan merusak tabir. Tidak seharusnya setiap keadaan yang tak disukai disampaikan ke orang lain, kecuali jika ditujukan untuk kemaslahatan kaum Muslim atau menolak kemaksiatan, seperti kesaksian di pengadilan.
Selain ancaman tidak masuk surga, penghasut dikecam sebagai manusia paling buruk perilakunya. ''Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang paling buruk perilakunya di antara kalian? Yaitu, orang yang berjalan di atas muka bumi seraya menghasut, yang merusak di antara orang-orang yang tadinya saling mencintai, dan hanya ingin membeberkan aib orang-orang yang tidak bersalah.'' (HR. Ahmad bin Hanbal).
Menghasut sangat berbahaya jika dilestarikan dalam kehidupan sosial. Pertama, munculnya benih saling mencurigai di antara sesama. Kedua, jatuhnya nama baik dan martabat seseorang. Ketiga, terciptanya kekacauan, ketakstabilan, dan ketidakharmonisan dalam hubungan sosial.
Rasulullah SAW mengecam orang-orang munafik di Madinah karena perilaku kotornya yang suka menghasut saat beliau berhijrah. Kebiasaan menghasut sepertinya sudah menjalar dan meluas di negeri kita saat ini. Konflik menjadi bukti nyata ciptaan para penghasut. Bila kita menginginkan konflik tidak bertambah, kebiasaan buruk itu harus ditinggalkan.


