Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Sunday, August 31, 2014

Jadilah Hamba Allah yang Rahmatan Lil 'alamin

Nabi Muhammad SAW yang diutus ke atas permukaan bumi ini menjadi suri tauladan yang baik bagi umatnya dan sekaligus menjadi rahmatan lil 'alamin atau rahmat bagi seluruh alam. Ajaran beliau sangat santun dan lembut. Tidak ada satu sunnah beliau pun yang tidak bermanfaat bagi orang yang mengamalkannya. Banyak dulunya sunnah-sunnah beliau dihujat karena dianggap aneh dan bertentangan dengan kebiasaan dan ilmu pengetahuan, tapi akhirnya dijadikan rujukan dan pedoman. Untuk itu maka sebaiknyalah kita berbangga dapat mengenal beliau walaupun kita tidak pernah jumpa dengannya, insyaAllah di surga nanti kita akan bertemun dengan beliau apabila kita mau mengamalkan sunnah-sunnah dan mengikuti jejak-jejak beliau, amiin.

Sebagai umat beliau, umat utusan Allah SWT yang rahmatan lil 'alamin, kita juga berusaha agar menjadi umat yang rahmatan lil 'alamin. Ada beberapa makhluk Allah yang sifat-sifatnya bisa menginspirasi kita menjadi rahmat seluruh alam. Apakah makhluk-makhluk tersebut? Berikut ini ada empat jenis yang akan saya utarakan disini.

1.    Air
Air adalah sumber kehidupan. Hampir tidak ada satu jenis makhluk hidup pun yang tidak butuh air, semuanya membutuhkan air dalam proses tumbuh kembang mereka. Air juga lambang kesejukan dan kesegaran. Dengan airlah haus dan dahaga kita terobati. Untuk menambah cita rasanya, air juga bisa dicampur dengan bahan-bahan lain seperti gula, kopi, teh, susu, jahe, dan lain-lain. Dia bisa dengan mudah melarutkan benda-benda tersebut. Demikainlah hendaknya juga kita, memberi kehidupan bukan menjadi perusak. Menjadi obat dahaga dan penat bagi orang yang membutuhkan bukan menambah penderitaan orang lain. Dapat berbaur dan bersatu dengan orang lain untuk meningkatkan kualitas kita bukan menganggap orang lain musuh dan saingan.
2.    Daun
Daun adalah bagian dari tumbuhan yang berfungsi untuk mengolah makanan bagi tumbuhan tersebut. Dengan daunlah tumbuhan tersebut bisa tumbuh dan tampak indah. Daun juga lambang kealamian yang ramah lingkungan.  Memandangnya menyejukkan dan berteduh di bawahnya menyegarkan. Setelah daun tersebut tua dan jatuh dia akan menjadi pupuk dan humus yang akan menyuburkan tanah yang menjadi makanan bagi tanaman selanjutnya. Kita juga bisa mencontoh filosofi daun, menyediakan makan bagi yang membutuhkan dan menjadi pemandangan yang asri bagi yang melihat, serta jasa-jasa kita juga bisa menjadi pupuk buat pertumbuhan dan perkembangan generasi selanjutnya.
3.    Padi
Yang ketiga ini merupakan suatu tumbuhan yang sangat dibutuhkan bagi kita terutama orang Asia. Ini menjadi makanan pokok kita yang harus ada untuk konsumsi sehari-hari kita. Filosofi lain dari padi yaitu semakin tua dan berisi, tumbuhan ini semakin menunduk merendahkan diri, bukan malah sombong dan membangga-banggakan diri. Kita juga semestinya seperti itu, keberadaan kita dibutuhkan dan diharapkan orang lain bukan menjadi sampah masyarakat yang dianggap parasit bagi orang lain. Walaupun kita dibutuhkan masyarakat karena ilmu dan kemampuan yang kita miliki, tetapi kita tidak boleh sombong dan angkuh dan merasa segalanya berjalan karena jasa kita. Sebaliknya, kita semestinya semakin rendah hati karena kita semakin menyadari banyak hal diluar sana yang belum kita ketahui.
4.    Lebah
Yang terakhir adalah lebah. Makhluk yang bernama lebah merupakan binatang yang cukup unik dan istimewa. Bagaimana tidak dikatakan istimewa, namanya diabadikan oleh sang Pencipta di dalam kitab suci Al-qur’an yang menjadi nama sebuah surat. Unik karena sifat-sifatnya. Lebah selalu memakan sari pati bunga yang sudah pasti rasanya manis, dia juga menghasilkan produk yang sangat manis yang menjadi obat dan penawar bagi beragam jenis penyakit. Kedua, dimanapun dia hinggap tidak pernah menyebabkan dahan yang ditumpanginya menjadi patah, dan selanjutnya lebah tidak mau mengganggu.
Kita bisa sangat dekat dengan mereka pada saat mereka merasa aman, tapi begitu dia merasa terganggu, dia akan menyerang apa dan siapa saja dan rela mati mempertahankan koloninya. Manusia rahmatan lil ‘alamin juga demikian semestinya. Mengkonsumsi atau memasukkan yang baik-baik ke dalam tubuhnya, membaca, melihat dan mendengarkan yang baik-baik dan juga mengeluarkan ucapan dan tingkah laku yang baik. Selanjutnya, kita jangan pernah menjadi beban bagi orang lain, yang dapat merusak dan mengganggu tempat tinggalnya. Terakhir, kita jangan hobi mengganggu orang lain tetapi juga bersikap ksatria dan berani apabila diganggu orang lain karena kita yakin kita berada di pihak yang benar.
Demikianlah bebarapa makhluk yang dapat kita contoh…masih banyak makhluk lain yang mungkin punya filosofi yang dapat kita ambil pelajaran darinya.

Read more...

Monday, November 9, 2009

Jika Tahu Kita Akan Menangis (Ttg Siksa Neraka)

“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan- Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawab kan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.
by: Muhammad Nuh (Tausyiah online)

Read more...

Monday, August 31, 2009

5 Tanda Orang Bertaqwa menurut Syaidinna Usman bin Affan

1.Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh/sholehah, yang menjaga lisannya.
Bergaul dengan orang-orang sholeh karena kita akan mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan bila mendapatkannya dari orang-orang yang hanya mengucap kebenaran.

2.Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.

Salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya kita dari ujian yang diberikanNya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita.

3.Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.
Teringat cerita Syaidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat Ashar di Masjid hanya karena beliau sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Syaidina Umar pun begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai penyebab musibah itu akhirnya dijual.

4.Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram & tidak sampai kenyang.
Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi ‘Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang‘. Sungguh suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan namun saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk.

5.Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya.
Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.
Nampaknya banyak diantara kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam beribadah, kemudahan dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mudah menganggap dirinya lebih sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu’ dan senantiasa melakukan amal ibadah tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan kualitas ketakwaan diri.

By: Ust. Komaruddin Cholil

Read more...

4 waktu yang tidak boleh disia-siakan

Adapun 4 waktu yang tidak boleh disia-siakan adalah:

•Waktu untuk bermunajat
Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan bertasbih, berzikir atau membaca Kalamullah. Bila kita tertidur saat kita sedang bermunajat, insya Allah kita dianggap sedang berdoa selama kita tidur, subhanallah.

•Waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih

Tanpa pernah tahu kapan kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah membantu kita dalam hal apapun. Terutama bagi yang masih memiliki orang tua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka, ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada kita.

•Waktu untuk mengevaluasi diri
Bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan modal yang berharga untuk masa depan.

•Waktu untuk beramal sholeh
Tidak perlu menunggu tanggal gajian, seberapapun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apapun amal ibadah kita dan akan menggantinya berlipat ganda apabila keikhlasan ada dibalik perbuatan kita membantu sesama.

By: Ust. Komaruddin Cholil

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP